Home

Donasi Login Register
Artikel
Ari Wibowo Shinoda
pada 3 February 2026 | Kelas Kompetensi

Peran Komunitas Guru dalam Melindungi Anak di Ruang Digital - Perspektif Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN)

Saya mewakili Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) menyambut baik terbitnya dokumen Rekomendasi Kebijakan: Peran Sistem Pendidikan dalam Pelindungan Anak di Ruang Digital. Dokumen ini menjadi pengingat penting bahwa transformasi digital dalam pendidikan tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab kolektif kita untuk melindungi anak. Ruang digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan belajar anak, namun tanpa pendampingan yang tepat, ruang ini juga menyimpan berbagai risiko bagi tumbuh kembang mereka.

Sebagai komunitas guru yang tumbuh dari praktik belajar bersama dan refleksi di lapangan, KGBN melihat langsung bagaimana tantangan digital hadir di ruang kelas dan rumah. Guru menghadapi murid yang semakin sulit fokus, relasi sosial yang melemah, serta kebiasaan belajar yang terfragmentasi akibat paparan gawai berlebihan. Di sisi lain, orang tua sering kali berada pada posisi serba salah: antara ingin mendukung pembelajaran digital dan kekhawatiran akan dampak negatifnya. Karena itu, rekomendasi kebijakan yang menekankan literasi digital, relasi positif guru–orang tua–anak, serta pengaturan penggunaan gawai menjadi sangat relevan dengan realitas yang kami hadapi.

KGBN memandang literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan kecakapan hidup yang berakar pada kemampuan berpikir kritis, etika, empati, dan regulasi diri. Guru memiliki peran strategis untuk menanamkan nilai-nilai ini melalui pembelajaran yang bermakna, baik dengan maupun tanpa teknologi. Namun guru tidak dapat bekerja sendiri. Penguatan literasi digital perlu dibangun sebagai praktik bersama antara sekolah, keluarga, dan komunitas. Di sinilah peran komunitas guru menjadi penting sebagai ruang belajar, berbagi praktik baik, dan saling menguatkan.

Rekomendasi tentang penguatan relasi positif antara guru, orang tua, dan anak juga sejalan dengan nilai yang selama ini dihidupi KGBN. Banyak praktik baik di komunitas kami menunjukkan bahwa anak lebih mampu menavigasi ruang digital secara sehat ketika mereka merasa aman, didengar, dan didampingi. Relasi yang hangat dan reflektif menjadi fondasi utama pencegahan berbagai risiko digital, termasuk adiksi dan paparan konten tidak layak.

Selain itu, KGBN mendukung perlunya kebijakan penggunaan gawai yang terukur dan kontekstual di sekolah. Alih-alih pendekatan seragam, kebijakan berbasis prinsip yang melibatkan suara anak, guru, dan orang tua akan lebih efektif dan berkelanjutan. Pengalaman praktik hari tanpa gawai, aktivitas non-digital, dan pembelajaran berbasis interaksi langsung menunjukkan dampak positif terhadap fokus belajar dan kesehatan sosial-emosional murid.

Akhirnya, kami percaya bahwa pelindungan anak di ruang digital hanya dapat terwujud melalui kolaborasi multi-pihak. Pemerintah, sekolah, guru, orang tua, komunitas, dan penyedia platform digital perlu bergerak selaras. KGBN siap mengambil peran sebagai mitra kritis dan kolaboratif dalam menerjemahkan rekomendasi kebijakan ini ke dalam praktik nyata di lapangan. Karena bagi kami, melindungi anak di ruang digital bukan sekadar agenda kebijakan, melainkan tanggung jawab moral bersama demi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih aman dan manusiawi.

Bagikan artikel ini :

(0) Komentar

Silakan login untuk dapat berkomentar!

Artikel Lainnya

Praktik Baik Penguatan Projek Profil Pelajar Pancasila di SMAN 51 Jakarta
KGB maring "Omah Sinau Bocah"
INTERNALISASI NILAI-NILAI KEAGAMAAN MELALUI PROGRAM SENTER (SEKOLAH NEGERI RASA PESANTREN) DALAM MENGATASI DEKADENSI MORAL PESERTA DIDIK
PRAKTIK BAIK METODE ATAP “PAK KARMAN” (PEMBELAJARAN ASYIK DENGAN KARTU PERMAINAN) KARTU : LINIMASA
Document